Ketika Pancasila Mengahadapi Masa Kerun-(Tuhan)-nya

Harian Bhirawa: Selasa, 27 November 2012

Oleh: Junaidi*

“Ketika uang sudah manjadi tuhan, maka segalanya akan menjadi sistem tatanan masyarakat yang bersifat otoriter, tidak memandang siapakah mereka, apapun akan dilakukan demi tuhannya”.

Setiap negara di dunia ini memiliki dasar sebagai simbol kekuatan dari keseluruhan aspek yang ada di dalamnya. Dengan simbol itulah prospek dan karaktristik negara bisa diketahui oleh negara lain sehingga memudahkan komunikasi antar sesama negara dalam menjalin hubungan internasional. Betapa sangat pentingnya sebuah simbol itu jika kita benar-benar mengaplikasikan dengan baik dan serta-merta dalam mengatur tatanan sebuah kehidupan masyarakat demi keadilan dan kemakmuran bersama.

Bangsa Indonesia dalam mengatur tatanan masyarakat yang rukun dan memiliki prospek yang cerah untuk masa keberlansungan negaranya telah membentuk dasar yang kuat. Basis tersebut telah tersusun dalam beberapa karakteristik bangsa Indonesia itu sendiri yang tercantum dalam ‘Pancasila’. Pancasila merupakan bahasa sansakerta yang memiliki arti lima dasar, yang isinya menyangkut seluruh aspek kehidupan bangsa Indonesia itu sendiri dalam masa perjalanan roda pemerintahannya.

Kandungan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia meliputi; Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemanusiaan yang adil dan beradab. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan atau perwakilan. Persatuan Indonesia. Dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Lima basis tersebut memiliki peran yang sangat penting yang mana negara Indonesia ini mengakui dan menghargai lima macam agama yang dianut oleh masyarakat pribumi dengan satu tuhan. Mulai dari agama Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan Katolik seluruh penganutnya dilindungi dan diberikan hak dalam menjalankan agamanya sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Landasan utama bangsa Indonesia adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam tatanannya, seluruh bangsa Indonesia yang menjadi titik tekannya harus memiliki sebuah keyakinan dalam kehidupan sosial. Namun dalam berkeyakinan tidak mengharuskan bangsa ini untuk menganut lebih dari satu agama. Hal demikian untuk menghindari kecemburuan antar sesama yang pada akhirnya menimbulkan permusuhan dan kehancuran. Dengan keyakinan yang dimiliki oleh masing-masing ajaran agama, maka para penganutnya bisa mengatur dan mengkonsep prospek yang baik sehingga terhindar dari berbagai macam hal yang berbau negatif, misalkan korupsi.

Runtuhnya Ketuhanan

Setelah beberapa lama Pancasila dibentuk dan diakui sebagai basis negara bangsa Indonesia, kini sudah tinggal selongsongan saja. Sangat ironis sekali perjalanan kehidupan bangsa yang berketuhanan ini sampai menghilangkan nilai ketuhanan yang diyakininya sebagai body guard dalam menjaga dan mengatur jalan kehidupannya. Agama yang menjadi keyakinan dan memiliki aturan yang mengikat dan harus dipatuhi secara tulus tanpa adanya paksaan (namun jika meninggalkan aturan dalam agama masing-masing tentu ada akibat yang akan mengancam kehidupan penganutnya kelak) kini mulai ditinggalkan dan diubah demi kemakmuran kelompok tertentu.

Keyakinan dalam beragama kini hanya tinggal status agamanya saja, yang mana pengaplikasian ajaran agama tidak diterapkan dengan baik. Dengan kata lain, banyak terjadi pelanggaran aturan dalam keyakinan hidup beragama, sehingga kehidupan bangsa ini saling tumpang-tindih tidak menentuh arahnya kemana. Keadilan, perdamaian, dan toleransi kini sedikit demi sedikit mulai sirna dari jati diri ajaran agama yang dianut oleh bangsa Indonesia.

Berbagai kasus pembunuhan, terorisme, pemerasan, yang lebih parah lagi kasus korupsi yang merusak kemakmuran dan kedamaian bangsa ini, dan berbagai macam pelanggaran atas undang-undang hingga HAM kini dilanggar sendiri oleh para penkonsep konstitusi tersebut. Melihat hal demikian, hidup yang berketuhanan yang maha esa (tuhan satu/tunggal) dengan beberapa aturan yang telah diberlakukan oleh keyakinan agama masing-masing bangsa Indonesia kini harus ditumbuhkan dan lebih diperkuat lagi.

Sejak dahulu ketika basis negara Indonesia dibentuk yang menjadi sila pertama yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”, kini lambat laun basis tersebut terkikis oleh zaman yang sudah mulai menunjukkan duri-duri koruptor menancap di berbagai instansi negara, sehingga banyak perubahan dalam aspek kehidupan bangsa ini. Jika sila berbunyi demikian, berarti bangsa ini masih memiliki aturan yang mutlak dan tidak bisa diukur dengan materi apapun. Sila yang pertama ini dalam menghadapi tantangan zaman hingga berubah menjadi “Keuangan Yang Maha Esa”. Yang mana kehidupan bangsa ini diukur dengan uang, hidup tanpa uang semua sengsara. Padahal tidak demikian, yang mengatur hidup ini adalah tuhan yang kita yakini, bukanlah uang.

Jika sudah basis negara yang pertama ini sudah menjadi dasar utama negara Republik Indonesia. Maka kasus korupsi akan menyeruak terus di berbagai sektor pemerintahan, baik dari paling bawah hingga pada ujung paling atas dari tingkat kepemimpinan pemerintahan RI. Kini uang menjadi tolok ukur kesejahteraan hidup sehingga dituhankan keberadaannya. Tanpa memilah dan memilih siapaun, mayoritas tuntutan zaman ini harus menghandalkan uang daripada mendahulukan nilai ketuhanan yang menjadi keyakinan bangsa Indonesia sejak awal mampu melindungi pemeluknya dari perilaku amoral.

Berbagai cara dan metode dalam menghapus kasus korupsi dan menindak para koruptor agar jerah melakukan pidana korupsi. Mulai dari dirintisnya pendidikan berkarakter, eksekusi para koruptor, dan hingga pemiskinan para koruptor. Namun seakan-akan tidak memberikan hasil yang cukup menjadikan roda perjalanan pemerintahan RI ini lebih baik dan lebih makmur.

Apalagi akhir-akhir ini berbagai kalangan masyarakat dihebohkan dengan kasus baru, yaitu KPK melawan Polri secara pandangan mata. Namun substansinya KPK melawan Koruptor. KPK tidak boleh melawan Polri itu merupakan aturan yang diberlakukan di Negara kita. Memang opini publik menyatakan bahwa KPK melawan Polri, hal ini yang perlu diperjelas dan diluruskan. Maka, untuk itu kebijakan presidenlah yang kita tunggu.

Berbagai cara dan antisipasi untuk menolak tuntutan masyarakat kepada pemerintah mulai diobsesikan oleh pemerintah. Mulai Bantuan Langsung Tunai (BLT), Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkemas), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan akhir-akhir ini diisukan dengan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) dan BBM bersubsidi. Tentunya di balik kebijakan pemerintah atas dinaikkan harga BBM perlu kita cermati dan kritisi mengingat pada rintisan pemerintah atas bantuan-bantuan yang diberikan kepada masyarakat. Tidak bisa kita tebak lagi, antisipasi apa lagi yang akan dikeluarkan oleh presiden RI atas grasi yang bertentangan itu.

Satu hal pasti dengan kasus akan dinaikkannya harga BBM bulan lalu bukan menyelesaikan masalah keuangan dan kemakmuran rakyat. Akan tetapi malah mendatangkan masalah baru terhadap perekonomian rakyat meski berbagai kebijakan yang lain telah direncanakan sendiri oleh pemerintah. Mengahdapi hal demikian yang begitu komplek, pemerintah harus bisa mengubah dengan lebih terfokus pada basis negara yang pertama, yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa” bukan dengan “Keuangan Yang Maha Esa” dan tidak memanja masyarakat dengan berbagai bantuan dan keringanan sehingga mereka enggan bekerja dengan maksimal. Mungkin jika demikian, kasus korupsi dan berbagai problem pemerintahan tidak akan begitu memanas di negeri ini. Kita harus perhatikan dan terapkan terlebih dahulu basis negara (Pancasila) saat akan menjalankan roda pemerintahan RI ini. Ini mungkin akan menjadi salah satu penopang negara demokrasi yang kita tempati saat ini.

* Penulis adalah mahasiswa jurusan Sastra Inggris sekaligus aktifis HMI fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                               : 087866119361

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: