Antisipasi Krisis Moral Siswa

RADAR MADURA ● Selasa, 20 September 2011

Oleh: Junaidi*

Dari sekian berita yang kita ketahui di media cetak atau media elektronik  bahwa banyak siswa di beberapa instansi yang berupa sekolah melakukan perbuatan mesum dengan pasangannya. Sehingga mereka harus berurusan dengan pihak yang berwajib, ditambah lagi dengan rasa malu dan harus siap-siap dengan orasi orang tuanya nanti ketika sudah kembali ke rumah masing-masing.

Diakui atau tidak, kita harus menyadari bahwa siswa merupakan generasi penerus bangsa yang nantinya bisa menjadi sosok pemimpin dan mereka harus memiliki moral yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku dan diakui oleh masyarakat. Harapan untuk menjadi paradigma yang baik itu merupakan hal yang tidak asing lagi. Semua orang tentu mengharapakan sesosok pemimpin yang nantinya bisa menjadi pemimpin yang bermoral baik, dengan kata lain, dalam agama Islam diartikan dengan akhlakul karimah atau tindakan/perilaku yang baik.

Moralmemiliki dua klasifikasi. Pertama, ada moral baik yaitu perilaku yang tidak menyimpang dari norma-norma yang diakui dan diberlakukan dalam masyarakat. Kedua, moral jelek yaitu perilaku seseorang yang tidak sesuai dengan norma-norma yang diakui dan diberlakukan dalam masyarakat. Moral yang jelek harus diantisipasi dari siswa sedini mungkin. Karena jika tidak diantisipasi sedini mungkin bisa berdampak negatif terhadap perkembangan dan perilaku yang nantinya sulit untuk dirubah.

Pembinaan moral yang baik sangat diutamakan. Karena moral menjadi kunci sukses dan majunya suatu Negara. Dalam pembinaan moral yang baik harus diawali dengan pengembangan watak. Watak merupakan sifat yang mencerminkan perilaku manusia dalam bertindak. Jika seseorang memiliki watak yang bejat dia bisa dikategorikan tidak bermoral baik. Akan tetapi, berbeda dengan orang yang bermoral jelek, dia belum tentu memiliki watak yang jelek. Pengertian watak dan moral memang hampir sama, akan tetapi moral lebih mengarah kepada tingkah laku yang bisa dirubah. Sedangkan watak lebih mengarah pada sebuah perilaku yang sangat sulit bahkan tidak dapat untuk diubah. Namun pengantisipasian moral yang jelek sangat diutamakan dengan membina watak yang baik terlebih dahulu.

Dalam pembinaan moral yang baik dibutuhkan sebuah dukungan dari pihak keluarga, sekolah, dan masyarakat. Katimpangan dukungan yang diberikan tidak memaksimalkan dalam prosesnya. Namun dalam kenyataanya saat ini, kelurga hanya menyerahkan anak mereka kepada pihak sekolah, masyarakat hanya sebagai pengamat atau penilainya saja. Seakan-akan yang berhak untuk membina moral yang baik itu hanyalah seorang guru. Sebagai contoh, jika seorang anak atau siswa yang memiliki moral yang bejat dan tidak baik maka yang terkena batunya terlebih dahulu adalah guru. “Siapa sih guru yang mengajari anak itu?”. Kata-kata seperti itu tidak pantas lagi diucapkan oleh semua orang atau masyarakat. Sebaiknya jika melihat anak atau siswa yang beperilaku baik yang disebut pertamakali adalah orang tua mereka sendiri. Sebaiknya jika ada masyarakat yang melihat seorang anak atau siswa yang berperilaku jelek, ditegur secara langsung dan diperbaiki, jangan sampai menyalahkan guru yang selama ini telah mendidiknya.

Sifat menyalahkan itulah yang lebih bejat dari pada tidak memperbaiki moral yang menyimpang. Pada intinya, dalam pembentukan moral yang baik harus ada kerja sama antara semua pihak dan golongan. Jangan sampai mengekstrim kanan atau kiri. Jika kerja sama antara kelurga, sekolah, yaitu guru, dan masyarakat berjalan dengan lancar. Maka pembinaan moral yang baik dan sesuai dengan norma-norma yang berlaku akan dicapai.

Namun yang perlu kita garisbawahi adalah kita sebagai siswa harus memikirkan nasib masa depan (tahu diri). Nasib masa depan kita jangan sampai dirusak, agar masa depan kita lebih cerah dari masa yang sekarang. Jika sekarang kita telah melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan norma-norma masyarakat yang telah berlaku, maka kita akan mendapat kecaman tersendiri, mungkin kita akan merasa malu, takut, grogi, dan was-was ketika berjumpa dengan orang lain. Kita harus mematuhi norma-norma yang berlaku di masyarakat meskipun norma tersebut tidak tertulis, karena meski tidak tertulis itu sangat kuat dipegang oleh masyarakat.

Zaman penuh dengan alat canggih seperti handphone, laptop, dan internet yang bisa mengakses segala macam sumber berita dan kabar dari berbagai Negara di dunia perlu diikuti dengan pendidikan moral yang baik. Bimbingan dan teguran yang tegas dari pihak sekolah yang sangat penting untuk mencegah bertambahnya moral siswa yang semakin ambruk saat ini. Jika pihak sekolah kurang membrikan respek yang baik terhadap siswanya, itu sama saja dengan memberikan peluang kepada siswa untuk melakukan hal-hal yang menyimpang dari norma-norma yang telah berlaku.

* Penulis adalah staf pengajar Markaz bahasa Arab dan Pembina pers Pondok Pesantren AL-IN’AM Banjar timur Gapura Sumenep Madura.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: