Menyoal Unas dan Semangat Belajar Siswa

RADAR SURABAYA ● RABU, 21 MARET 2012

Oleh: Junaidi*

Menjelang pelaksanaan Unas, mayoritas siswa memburu beberapa materi pelajaran yang menjadi materi Unas baik SMA, SMP atau yang sederajat, terbukti dengan banyak pelajaran ekstra. Itu merupakan hal yang lumrah, yang memang biasa dilakukan oleh para siswa kelas akhir yang akan menghadapi Unas. Unas banyak membawa dampak positif bagi kerajinan siswa, di samping itu pula terdapat hal-hal negatif yang tidak ditemukan secara langsung. Unas yang kini pernah terlaksana dengan lancar meskipun sebagian siswa ada yang tidak bisa mengikutinya dengan beberapa alasan, seperti halnya ada yang menikah dan memang sengaja tidak mengikuti Unas karena problematika tertentu.

Unas memberikan semangat baru kepada siswa untuk lebih rajin belajar dan menguasai pelajaran lebih banyak dari sebelumnya dalam materi yang menjadi bahan pokok dalam Unas. Apakah mereka hanya cukup belajar rajin untuk menghadapi Unas saja yang di dalamnya seakan-akan hanya main untung-untungan dalam kelulusan? Itu manjadi tanda Tanya bagi kita semua.

Semangat belajar siswa akan maju hanya ketika menghadapi hal-hal yang mendesak baginya, misalkan pra-Unas. Pada esensinya mereka belajar untuk Unas bukan untuk menambah pengetahuan yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menggunakan skill yang mereka miliki untuk belajar rajin pada pra-Unas. Unas yang akan mereka tempuh bisa diakali dengan istilah belajar Sistem Kebut Semalam (SKS).

Belajar yang demikian merupakan sebuah tantangan bagi seorang siswa, dimana mereka harus mengoptimalkan daya pikirnya untuk mengingat dan menghafal pelajaran yang menjadi target dalam Unas. Hal demikian yang bisa menyebabkan stres apabila apa yang diinginkan tidak sesuai dengan keinginannya. Jadi, paling tidak belajar Sistem Kebut Semalam dalam menghadapi Unas tidak dilakukan. Lebih baik kita belajar dengan optimal dengan cara yang normal yang biasa kita lakukan jauh sebelum Unas. Agar apabila sesuatu yang diinginkan tidak tercapai kita bisa mencarikan solusi tebaik dan bisa menyelesaikan problem yang sedang kita hadapi dengan pikiran jernih.

Kenyataan yang sering kita temui di lingkungan sekitar adalah siswa belajar SKS dan setelah itu mereka bersantai ria ketika sudah melaksanakan Unas hingga sampai pelulusan, mereka kurang respek terhadap materi yang dipelajari sebelumnya. Hal demikian yang kita prihatinkan, dimana semangat mereka sirna untuk lebih banyak mengkonsep pelajaran. Sedangkan pra-Unas semangat mereka bagaikan bara api yang disiram dengan bahan bakar. Sifat yang demikian perlu kita sadari dengan memberikan bimbingan yang cukup mengarah kepada hal-hal yang bisa membawa mereka kepada prospek yang cukup berbobot dalam pedagogis saat ini dan masa mendatang .

Unas menumbuhkan semangat untuk belajar dan mendorong para siswa untuk lebih berkembang dan maju. Padahal, semangat yang mereka bangun tidak sesuai dengan fondasi yang mereka miliki. Pendorongan untuk membangun semangat yang mumpuni ini harus membentuk fondasi terlebih dahulu agar yang menjadi objek sesuai dengan yang diharapkan. Belajar rajin dan mengoptimalkan daya pikir dan daya ingat otak jangan hanya untuk menghadapi Unas belaka. Akan tetapi, belajar rajin dengan mengoptimalkan daya pikir dan daya ingat otak juga dimaksimalkan dalam kebiasaan balajar sehari-hari. Agar semangat dan penggunaan daya otak seimbang dengan apa yang kita hadapi.

Belakangan ini Unas sudah menjadi bahan tentatif para siswa. Dimana siswa belajar dengan begitu semangat demi mencoba untuk membuktikan kecerdasannya dengan menggunakan metode belajar SKS dengan mengoptimalkan waktu hanya untuk belajar. Sedangkan di balik itu, mereka terhadap pendidikan kurang memberikan respek yang baik setelah Unas terlaksana. Pendidikan mereka seakan-akan dipemainkan menjadi pendidikan rusak-rusakan dan hanya menjadi bahan percobaan belaka terhadap fungsionalisasi skill-nya saja.

Dalam menghadapi fenomena para siswa yang demikian, kiranya perlu penyadaran oleh semua pihak, seperti guru pembimbing dengan mengarahkan para siswa agar berantusias dan bersungguh-sungguh dalam belajar, mangikuti Unas, dan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, begitu juga agar bisa memanfaatkan fungsi otak kanan yang dimilikinya. Sehinggga, pendidikan tidak hanya menjadi bahan tentatif belaka dengan diselenggarakannya Unas.

* Penulis adalah Mahasiswa Department of English Literary IAIN Sunan Ampel Surabaya.

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: