Mengaplikasikan Bahasa Daerah Dengan Baik

RADAR MADURA ● Senin, 4 April 2011

 Oleh: Junaidi*

Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat berperan dan berpengaruh keberadannya dalam  kehidupan manusia. Dengan menggunakan bahasa, manusia bisa mendapatkan berbagai macam informasi yang ada di lingkungan sekitarnya, bahkan bukan di sekitarnya saja, akan tetapi dengan bahasa manusia bisa mengait bermacam-macam informasi dari tempat yang sangat jauh dam tidak mungkin untuk dicapai oleh manusia sendiri. Memang pada dasarnya dahulu manusia tidak memiliki bahasa secara lisan, namun cuma menggunakan bahasa tubuh yang sangat dominan. Namun lambat laun manusia mengalami evolusi dalam menjalani kehidupannya. Karena manusia merupakan mahluk yang dinamis yang menyukai terhadap perubahan yang lebih memudahkan untuk menjalani hidupnya.

Bahasa dan Tradisi

Menurut Dahlan (2003:780) tradisi adalah adat  kebiasaan dan kepercayaan yang secara turun-temurun dipelihara. Jika dilihat dari pengertiannya, tradisi sangat sulit bahkan tidak akan bisa untuk dirubah keberadaannya, karena telah mendapat pemeliharaan.

Daerah-daerah tertentu sudah pasti memilki tradisi yang lebih unik dari daerah lainnya. Bermacam-macam kegiatan manusia itu pasti menumbuhkan suatu tradisi yang harus dijadkan sebagai teks yang tidak tertulis, namun harus diikuti dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Begitu juga halnya dengan bahasa, bahasa banyak sekali ragamnya yang dapat ditemui di berbagai daerah diseluh negara yang ada di seluruh dunia.

Tradisi telah menumbuhkan bahasa yang dapat digunakan sebagai alat komuniksi baik secara lokal ataupun nasional bahkan ada bahasa yang keberadaannya ada di tingkat internasional dalam penggunaannya dalam percakapan sehari-hari. Bahasa dan tradisi itu tidak dapat dipisahkan, karena bahasa itu ada dengan terbentuknya tradisi tertentu yang menarik hasrat manusia untuk menumbuhkan bahasa yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan yang lainnya. Keberadaan bahasa memang seakan-akan penuh dengan tanda tanya, karena bahasa daerah tertentu memiliki bahasa yang berbeda yang tidak dimengerti oleh daerah lainnya dan untuk memahami bahasa daerah yang lain maka harus mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.

Belajar bahasa daerah tertentu sudah tentu telah mempelajari tradisi daerah tersebut. Karena telah kita ketahui bahwa bahasa berasal dari tradisi masing-masing daerah. Namun lambat laun bahasa daerah itu banyak mengalami evolusi yang berupa banyak kata-kata serapan dari bahasa daerah lain yang juga dijadikan tradisi di daerah yang menyerapnya. Keadaan semacam itu harus diwaspadai dan diakui bahwa bahasa yang telah digunakan itu bukanlah bahasa daerah sendiri, agar tidak terjadi ketimpangan sosial. Bahasa harus membentuk pribadi yang baik dan tatanan sosial yang sesuai dengan harapan bersama yaitu kedamaian dan kerukunan dalam kehidupan. Bahasa yang tidak baik akan menimbulkan banyak persoalan yang bisa merusak kehidupan manusia.

Tradisi menyerap atau mengdopsi bahasa daerah lain itu wajar-wajar saja. Namun dalam praktiknya, dalam pengakuannya jangan sampai menganggap bahasa yang diserap atau diadopsi itu sebagai bahasa tradisi sendiri, kita harus menghindari pro dan kontra yang nantinya bisa menimbulkan perselisihan hingga terjadi tindak-tindak kekerasan yang terjadi antardaerah. Jika terjadi pro dan kontra antarkelompok atau daerah, maka perkembangan yang menuju kemajuan akan sangat sulit untuk dicapai. Dari itulah, pro dan kontra harus dihindari agar kemajuan akan tradisi dan bahasa yang baik bisa terus berjalan dengan baik tanpa mendapat kendala yang bisa menghambat proses asimilasi.

Priyayi dan Rakyat Jelata

Priyayi merupakan pihak atau golongan yang memiliki banyak pengaruh dalam kehidupan bagi masyarakat, atau masyarakat yang mamiliki golongan darah biru, seperti halnya para kiai. Rakyat jelata adalah sekelompok golongan masyarakat yang kewibaannya di bawah para kaum priyayi. Rakyat jelata harus mematuhi dan tidak melawan terhadap golngan priyayi, jika ada masyarakat jelata yang memiliki kekeliruan bisa dianggap sebagai pembangkang. Namun dari sangat wibawanya, seorang priyayi jika mimiliki sebuah kekeliruan terhadap masyarakat, dia mudah mecarikan solusi meskipun sedikit bertentangan dengan masyarakat ataupun dengan agama.

Kerukunan dan hidup kebersamaan antara priyayi dan rakyat jelata dipertemukan oleh sebuah bahasa dan tradisi yang mereka jalani bersama dalam hidupnya. Mereka berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya dengan menggunakan bahasa yang baik. Dengan bahasa yang baik itu, kerukunan dan keharmonisan hidup antar keduanya bisa terlaksana dengan baik pula. Penerapan bahasa daerah yang baik banyak dilakukan oleh golongan priyayi yang mengajarkan kepada semua golongan dan selebihnya oleh rakyat jelata sendiri. Namun sebagai rakyat jelata, mereka tidak berani untuk mengajarkan bahasa daerah yang baik terhadap keturunan atau putra priyayi atas dasar mereka itu adalah putra seorang priyayi yang seakan-akan tidak patut untuk dibimbing oleh rakyat jelata.

Dari sini akan timbul pro dan kontra. Seorang rakyat jelata yang seakan-akan digolongkan sebagai menusia yang hina yang tidak pantas membimbing orang yang lebih bermartabat tinggi, dan begitu juga golongan priyayi sendiri, mereka tidak banyak menegur terhadap para putranya sendiri jika mereka menggunakan bahasa yang tidak baik (bahasa kasar) terhadap rakyat jelata (masyarakat) yang lebih tua umurnya dibanding dengan umur putranya itu, atau kepada orang yang setara dengan umurnya, seperti teman sebaya. Golongan priyayi dalam menerapkan bahasa daerah yang baik hanya mengekstrimkan kepada golongan rakyat jelata saja, putra sendirinya seakan-akan akan dibiasakan untuk menggunakan bahasa daerah yang kasar terhadap rakyat jelata yang lebih tua umurnya atau terhadap teman sebayanya.

Keadaan yang demikian itu bisa menimbulkan kecemburuan sosial, antara golongan priyayi dan rakyat jelata yang mungkin akhirnya akan memicu pada perpecahan kerukunan hidup. Agar hal yang semacam itu tidak terjadi, sangat dibutuhkan dari pihak priyayi sebuah sikap yang tidak ekstrim kanan dan tidak ekstrim kiri. Seorang priyayi dalam mengajarkan bahasa daerah yang baik tidak harus memicu terhadap rakyat jelata saja yang ditegur,. Akan tetapi jika ada putranya sendiri yang tidak menggunakan bahasa daerah yang baik, langsung ditegur dan diperbaiki dengan semestinya agar seorang putra priyayi dan priyayinya sendiri bisa menjadi sebuah paradigma masyarakat yang baik yang patut untuk diikuti.

    *Penulis adalah anggota forum istighotsah malam jumat legi dan sebagai pengajar di Markaz Bahasa Arab sekaligus pengurus dibaiyah mingguan pondok pesantren Al-In’Am Banjar Timur Gapura Sumenep, dan sekarang melanjutkan pendidikannya di IAIN Sunan Ampel Surabaya, jurusan Sastra Inggris (SI).

E-Mail: john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: