Memajukan Pendidikan dengan Mengurangi Pernikahan Dini

RADAR MADURA ● Kamis, 11 Agustus 2011

 Oleh: Junaidi*

Melalui dari beberapa kasus, banyak hal yang menghambat atas berjalannya pendidikan di Indonesia, khususnya di Madura. Baik itu berupa pendidikan karakter, agama, dan pendidikan akan ilmu pengetahuan. Diantara penghambat-penghambat berjalannya pendidikan yaitu, masalah ekonomi, kemauan, dukungan, dan sangat banyaknya pernikahan di usia dini. Namun mungkin bukan hal-hal itu saja yang bisa menghambat atas terlaksananya pendidikan. Akan tetapi, bisa ada hal lain yang bisa menghambat atas terlaksananya pendidikan dan itu tidak dapat dipungkiri. Kita hidup memang dihadapkan dengan berbagai macam masalah hidup yang tidak boleh tidak kita sendiri yang harus mengatasi dengan mencarikan solusi yang terbaik untuk meyelesaikannya.

Ekonomi merupakan kepentingan pokok dalam kehidupan manusia. Tanpa ekonomi sekarang ini, manusia tidak akan bisa menjalankan proses hidupnya sesuai denganyang diharapkan. Untuk era globalisasi saat ini, kehidupan diedentik dengan uang. Jika seseorang tidak memiliki uang, maka hidupnya tidak akan makmur. Begitu juga halnya dengan masalah pendidikan, pendidikan tanpa didukung dengan ekonomi yang memadai tidak akan pernah terlaksana. Ekonomi merupakan sumber kehidupan manusia. Karena jika ekonomi ada pada diri sesorang, maka yang menjadi keinginannya akan terpenuhi tanpa menunggu waktu dan kesempatan.

Kemauan dan dukungan pada dasarnya tidak bisa dipisahkan dalam proses berjalannya pendidikan. Jika kemauan yang sengat mempengaruhi, tetapi dukungan kurang, maka tidak akan berjalan dengan baik proses pendidikan tersebut. Begitu juga sebaliknya, jikadukungan saja yang dirongrong oleh pihak tertentu, seperti orang tua dan masyarakat tanpa ada kemauan dari pihak yang didukung, maka proses terlaksananya pendidikan akan terhambat pula. Pada intinya, antara kemauan dan dukungan harus selalu ada untuk berjalannya proses pendidikan yang baik.

Pernikahan merupakan proses dimana manusia untuk melanjutkan proses hidupanya. Meskipun agama telah membolehkannya bahkan Alquran memerintahkan, namun itu ada ketentuan-ketentuan tertentu yang harus dipenuhi oleh orang yang akan menikah. Menikah jangan diartikan sama dengan kawin. Kawin itu mudah, akan tetapi nikah yang agak sulit dengan beberapa persyarataaannya. Kalau kawin cukup di tempat sepi dan tidak diketehui orang. Akan tetapi, jika nikah harus melalui prosedur-prosedur tertentu yang harus dipenihi oleh seseorang. Pernikhan tanpa memenuhi prosedur-prosedur yang telah ditentukan seperti halnya pernikahan pada usia dini, ini akan menyimpan dan memproduksi beberapa masalah. Diantaranya terhambatnya prosese pendidikan.

Di berbagai daerah khususnya di Madura sudah tentu banyak pernikahan dini. Itu terjadi atas kemauan nafsu seseorang tanpa memikirkan masa depan yang akan dijalani. Sehingga masa depan yang baik yang mereka harapkan tidak tercapai. Penentu masa depan yang baik berasal dari sebuah pendidikan yang baik pula. Pernikahan dini sudah tentu akan menghambat proses pendidikan. Pendidikan membutuhkan keseriusan dalam prosesnya, tetapi jika dihadapkan dengan masalah kelaurga maka proses pendidikan tentu pasti akan terhambat. Pada substansinya, pernikahan dini harus dihindari agar proses pendidikan bisa berjalan dengan lancar dan sesuai dengan harapan.

Tindakan Pasti

Pernikahan dini banyak yang menganggap akan menjadikan masa depan seseorang tidak jelas arahnya. Sekan-akan ajaran Islam tidak memotifasi para generasi muda. Itu patut kita akui, karena selain usia dini kurang akan pengalaman hidup sebagaimana orang dewasa biasanya juga berdampak negatif terhadap pekerjaan, bisa jadi banyak pengangguran terjadi akibat pernikahan dini tersebut. Mereka tidak bisa berorentasi terhadap pendangan masa depan yang baik. Mereka masih berstatus anak-anak yang segala halnya masih ditanggung oleh orang tua mereka sendiri. Akibatnya merea tidak mandiri dalam menjalani kehidupan dalam kelurga yang baru mereka bina.

Tampaknya pernikahan dini ini menyeluruh di Indonesia. Akan tetapi, masyarakat umum mengatakan bahwa yang terbanyak anak menikah pada usia dini adalah di pulau madura. Orang Jawa menganggap pernikahan dini merupakan tradisi orang Madura. Apakah orang jawa memiliki sangkaan jelek atau memang seperti itu keadaan di Madura. Saya rasa memang benar demikian keadaan yang ada di Madura. Banyak anak yang menikah pada usia dini. Sejak masih sekolah dasar, sekolah menengah, hingga pada atas tingkat atas.

Di Madura banyak putus sekolah hanya karena menikah. Sehingga perjalanan pendidikan kader-kader muda itu mengalami hambatan, terutama dari pihak perempuan yang akan menjadi korban terpuruknya pendidikan. Menikah pada usia dini banyak kemungkinan untuk sering terjadi pertengkaran dalam keluarga tersebut, hingga pada akhirnya terjadi perceraian dan perpecahan diantara mereka. Itu akibat dari usia mereka yang masih mudan dan tidak bisa mengkondisikan situasi dalam keluarga sebagaimana layaknya orang dewasa.

Pernikahan dini di Madura pada awalnya memang dilatarbelakangi oleh adanya sebuah keinginan dari pihak anak-anak dan kemudian mendapat dukungan dari pihak lain, seperti halnya guru dan masyarakat sekitarnya. Dengan pertimbangan daripada kelak mereka akan bebuat maksiat dengan lawan jenisnya. Maka terjadilah pernikahan dini. Yang lebih parah lagi mereka ditawari dan dirongrong oleh para toko agama (kiai dan nyiai dalam istilah bahasa Madura) dengan dalil mengikuti sunnah nabi Muhammad Saw. Dengan berdalil demikian, tidak boleh tidak mereka harus mengikuti apa yang telah disarankan oleh kiai atau nyiai yang telah manjadi panutan mereka selama hidupnya.

Untuk menjaga kestabilan dan meningkatkan mutu pendidikan para generasi muda di Madura, umumnya di berbagai daerah, perlu sebuah tindakan pasti dari pihak kiai atau nyiai, guru, dan masyarakat pada umumnya untuk tidak menikahkan para generasi muda dan anak-anak mereka pada usia dini. Mereka harus didukung dan dimotivasi untuk terus menyelami dunia pendidikan sehingga mereka memiliki wawasan dan pandangan hidup yang lebih baik untuk menjalani masa depan yang belum diketahui secara pasti. Karena apabila mereka sudah berkeluarga, sedikit kemungkinan mereka untuk berperan aktif dalam dunia pendidikan dengan dihadapkan pada problematika hidup dalam kelurga mereka.

            * Penulis adalah staf pengajar Markaz bahasa Arab dan Pembina pers Pondok Pesantren AL-IN’AM Banjar timur Gapura Sumenep Madura.

E-Mail             : john_gapura@yahoo.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: