Hentikan Kekerasan dengan Dalil Jihad

RADAR SURABAYA ● Senin, 3 Oktober 2011

 Oleh: Junaidi*

Kerukunan dalam hidup beragama sangatlah perlu diutamakan. Kerukunan sangatlah penting bagi kehidupan bersama tak memihak kepada siapapun, semua kalangan mengharapkan sebuah kerukunan di dalam kehidupannya. Dalam hidup bermasyarakat tidak lepas dari harapan untuk selalu hidup rukun dan damai. Kerukunan dan kedamaian itu sendiri akan menjadi sebuah gagasan untuk selalu hidup dengan kekeluargaan.

Memang kerukunan antar masyarakat, agama, ras, lawan politik, teman, dan anatrnegara itu sangat sulit untuk dibina, karena ada hal-hal yang lebih dipentingkan secara pribadi. Ada banyak hal yang ingin dicapai oleh individu  masing-masing untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, mereka kurang memikirkan untuk kepentingan, kemakmuran bersama, sehingga hidup ini penuh dengan persaingan dalam menjalaninya. Masyarakat pada umumnya memiliki sifat egois yang begitu mengental, yaitu sifat yang hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa menghiraukan kepentingan orang lain yang ada di sekitarnya.

Kepedulian

Agama menganjurkan masyarakat untuk selalu mementingkan atau mendahulukan terhadap kepentingan bersama demi tercapainya kemakmuran bersama. Namun banyak masyarakat yang tidak menghiraukan perintah tersebut. Mereka seakan-akan hanya mengandalakan skil yang dimilkinya sendiri, padahal mereka tidak akan bisa menjalankan aktifitas dalam kehidupan sehari-hari tanpa bantuan orang yang ada di sekitarnya. Saat ini masyarakat lebih percaya dan yakin terhadap skil pribadinya sendiri tanpa menoleh kepada orang-orang yang telah banyak menyumbangkan tenaga dan pikirannya dalam menjalankan tugas yang mereka emban setiap hari.

Dalam hidup beragama, bermasyarakat, bertetangga, dan berkeluarga yang baik itu memerlukan partisipasi yang benar-benar tumbuh dari pribadi masyarakat masing-masing. Hal semacam itu memang tidak disenangi oleh kebanyakan masyarakat, karena pertisipasi merukan tindakan yang dilakukan bersama dan untuk kepentingan bersama. Mereka hanya ingin berpatisipasi jika mereka merasa akan diuntungkan secara pribadi tanpa ada bagian terhadap kroni yang lainnya.

Prinsip keikutsertaan dalam bermasyarakat dan hidup dalam lingkup sosial sangat minim diminati oleh sebagian masyarakat. Masyarakat tidak hanya dituntut untuk hidup bermasyarakat, akan tetapi mereka juga harus memperhatikan keadaan masyarakat sekitar. Tuntutan semacam itu tak kalah pentingnya untuk menjaga kepribadian mereka sendiri dalam menjaga kehormatan dirinya di mata masyarakat.

Rasa partisipasi dalam masyarakat memang disadari oleh mereka sendiri, namun kenyataannya mereka hanya mendengarkan dan tidak mempraktekkan dalam kehidupan yang mereka jalani. Pentingnya partisipasi masyarakat dalam menumbuhkan hidup bersama akan membentuk kepedulian yang sangat dibutuhkan oleh berbagai kalangan. Kepedulian untuk hidup bersama tak jarang kita temui dan kita rasakan, banyak masyarakat yng ingin mendapat kepedulian dari pihak lain. Untuk menjaga kerukunan dan kepedulian perlu kita provokatori agar hidup ini bisa berjalan dengan harapan bersama tanpa ada ektrim kanan ataupun ektrim kiri terhadap bebagai pihak

Kehidupan tidakalah bisa lepas dari warna-warni yang selalu menyelimuti tingkah dan pekerjaan kita dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Kewaspadaan dalam menjalani kehidupan bersama sangat begitu penting, kita selayaknya membuang jauh-jauh sifat cemburu yang selalu memburu hati nuranu yang ingin selalu untuk menyingkirkan bahkan ingin menjatuhkan saingan hidup. Tidak layak sebagai umat yang beragama selalu ingin menjatuhkan pihak lain, apalagi ingin menjatuhkan mertabat agama lain yang memiliki cara pandang dan pendapat yang berbeda dengan agama yang dianut oleh pribadinya sendiri.

Menerapkan Sikap Toleransi

Kebebasan dalam menganut agama sudah tidak asing lagi kita dengar. Semua orang bebas menganut agama yang ia inginkan sesuai dengan keyakinan mereka masing-masing. Jika dipandang dari segi ajarannya, tidak ada agama yang mengajarkan hal-hal yang merusak, baik itu merusak terhadap lingkungan, diri seseorang, ataupun merusak moral. Apalagi sekarang ini yang marak-marak dengan jihad atas nama agama. Semua agama mengajarkan sesuatu yang mengajak terhadap hal-hal yang menjadikan manusia hidup dengan aman, tentram, dan damai, bukan dengan istilah jihad yang meresahkan semua pihak.

Meskipun sudah jelas, bahwa tidak agama apapun yang mengajarkan kekerasan, namun ada sebagian pihak yang lain masih menganggap agama Islam adalah agama kekerasan. Itu merupakan salah besar dan itu perlu kita luruskan agar semua golongan menyadari apa sebenarnya yang ada di dalam ajaran agama.

Pihak yang melakukan tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama itu merupakan keinginannya sendiri, bukan agama yang memerintahkan untuk melakukan kekerasan. Jadi, pihak lain yang mengetahui kekerasan itu akan mengecam agama  merupakan sarang kekerasan.

Padahal, agama selain tidak mengajarkan kekerasan juga mengajarkan sifat toleransi dalam hidup beragama. Tindakan-tindakan yang tidak diajarkan oleh agama jangan sampai menjadi sebuah perisai dalam melakukan kekerasan di lingkungann masyarakat.

Kekerasan bukanlah salah satu metode untuk menyebarluaskan agama. Akan tetapi sikap toleran dan halus dalam bertindak yang sangat dibutuhkan dalam menyebarluaskan agama. Jika dalam penyebarluasan agama tanpa sikap toleran terhadap masyarakat, maka mereka akan berasumsi bahwa agama tidak pantas dianut. Dari sudut pandang itulah nama baik agama akan tercoreng dalam kehidupan manusia.

Agama apapun, baik itu agama Islam, Kristen, Buddha, Katolik, Yahudi, dan agama Nasrani tidak mengajarkan sikap egois, akan tetapi pengertian dan toleran dalam hidup bergama yang diutamakan, jika ada masyarakat yang memiliki asumsi bahwa agama adalah sarang kekerasan dan teroris itu salah besar dan perlu untuk disosialisasikan bahwa agama tidak seperti apa yang mereka duga. Dengan demikian, sikap toleransi dalam beragama akan menjadi sesuatu yang memang nyata diajarkan oleh agama terhadap umat manusia, agama apapun bukanlah pembentuk kekerasan dan bukan sarang para teroris dengan dalil jihad belaka.

* Penulis adalah Mahasiswa Department of English Literary IAIN Sunan Ampel Surabaya.

E-Mail: john_gapura@yahoo.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: