Berikan Hak Kepada Para Penyandang Cacat

RADAR SURABAYA ● Senin, 5 Desember 2011

Oleh: Junaidi*

            Tahun 1992 Majelis Umum PBB, melalui Resolusi Nomor 47/3, menetapkan 3 Desember sebagai Hari Penyandang Cacat Internasional. Setiap tanggal 3 Desember di seluruh dunia memperingati Hari Penyandang Cacat se dunia. Dari peringatan tersebut diharapkan adanya sebuah kesadaran sebagai bangsa yang hidup secara sosial untuk terus mendukung hak-hak kemanusiaan.

Biasanya peringatan Hari Penyandang Cacat itu tidak hanya digelar pada tanggal 3 Desember saja. Akan tetapi acara tersebut bisa digelar satu minggu hingga satu bulan dengan berbagai kegiatan yang bisa memberikan semangat kepada para penyandang cacat. Selain itu pula diharapkan dengan adanya refleksi tersebut rasa kemanusiaan bisa tumbuh kembali dari mereka yang tidak menyandang cacat.

Setiap manusia memiliki keinginan yang sama, yaitu ingin apa yang diharapkan tercapai. Baik itu orang yang sudah tua, pikun, dan rentan mati pun memiliki keinginan yang sama. Tercapainya keinginan menjadi kepuasan tersendiri bagi umat manusia di dunia. Lebih-lebih para penyandang cacat yang keadaan fisik dan psikisnya tidak sama dengan manusia sebagaimana mestinya.

Memperingati Hari Penyandang Cacat se dunia bukan hanya menggelar acara-acara yang banyak menghabiskan dana untuk keperluan tersebut. Akan tetapi dengan refleksi tersebut kita bisa menumbuhkan rasa kemanusiaan kepada mereka, terutama mengutamakan Hak Asasi Manusia (HAM) itu yang harus dijunjung tinggi demi mencapai kemakmuran bersama. Jangan hanya kita yang menuntut HAM, sedangkan mereka yang cacat dibiarkan begitu saja tidak diberikan hak yang selayakna kepadanya.

Di negeri ini sepertinya masih ada diskriminasi antara penyandang cacat dan yang tidak menyandang cacat. Seperti sebuah kasus yang dialami oleh Ridwan Sumantri, seorang penyandang disabilitas menggugat ke pengadilan sebuah perusahaan maskapai penerbangan nasional. Gugatan ini bermula ketika Ridwan, hendak terbang menuju Denpasar pada Senin 11 April 2011 dari Bandara Soekarno-Hatta. Ridwan merasakan perlakuan diskriminatif usai melakukan check in.

Awalnya dia meminta tempat duduk bagian depan supaya tidak terlalu jauh digendong. Nyatanya, dia mendapat seat 23 A atau bagian tengah. Diskriminasi lainnnya yaitu dia dipaksa menandatangani surat sakit. Tercantum pula jika sakitnya menyebabkan penumpang lain sakit, maka dia yang harus menanggung. Dirinya sempat protes hingga penerbangan molor selama 40 menit. Kru pesawat juga mengancam apabila tidak mau menandatangi surat sakit, maka Ridwan harus turun. Kasus ini masih bergulir di PN Jakpus (detik.com).

Jika kita mengaca pada kasus tersebut sangatlah nista nasib para penyandang cacat dalam keadaan demikian. Sehingga perlu kesadaran sebagai umat yang berasusila untuk memberikan hak yang sewajarnya kepada mereka. Memberikan hak bukan karena kasihan kepada mereka, akan tetapi itu merupakan bagian dari kewajiban kita sebagai sesama manusia untuk menjungjung tinggi nilai persaudaraan. Jika hak kita dirampas oleh pihak lain tentu tidak akan terima, apalagi orang sedang menderita cacat.

Dari itulah sangat diharapkan bagi masyarakat dunia dalam memperingati Hari Penyandang Cacat bukan hanya untuk bahan hiburan belaka. Akan tetapi nilai-nilai kemanusiaan yang perlu ditumbuhkan/disadari dengan sesadar-sadarnya demi terciptanya hidup yang saling menghargai. Jika masih ada diskrimnasi di antara umat manusia, maka perdamaian akan sulit untuk dicapai. Ketika perdamaian sulit untuk dicapai, maka perpecahan berkepanjangan yang akan melanda dunia ini yang tiada hentinya.

Hak, Kewajiban dan Kasihan

Memberikan kesempatan dalam segala bidang kepada para penyandang cacat merupakan kewajiban kita bersama. Kesempatan itu dimiliki kita bersama, menjadi hak bagi setiap masyarakat di belahan dunia ini. Kesempatan merupakan hak mutlak yang dimiliki oleh setiap masyarakat di dunia. Namun perlu disadari hak akan diperoleh jika telah melakukan kewajiban sebagaimana mestinya juga.

Dalam segala bidang apapun, jika kewajiban belum bisa terlaksana. Maka hak tidak akan dicapai atau diperoleh. Namun jika kewajiban sudah dilaksanakan, maka secara otomatis hak menjadi milik kita secara murni. Kalau pun ada penyelewengan mengenai hak kita, maka kita boleh menuntut apa yang menjadi bagian kita. Termasuk para penyandang cacat. Mereka manusia seperti kita yang juga memiliki hak untuk hidup layak. Dari itulah, junjung tinggi hak-hak dan kewajiban dalam masa peringatan Hari Penyandang Cacat ini.

Memberikan hak yang semestinya kepada mereka yang menyandang cacat bukan berarti kita kasihan terhadap mereka dengan keadaan dan kondisi yang sedang dijalaninya. Tetapi, memberikan hak kepada mereka demi menjunjung tinggi hak kemanusiaan yang dimilikinya. Kalau kita memberi hak kepada mereka atas dasar kasihan berarti hak itu milik kita semata, mereka tidak memilikinya. Padahal tidak, mereka sebagai manusia juga memiliki hak murni untuk hidup seperti mereka yang tidak cacat.

Dalam pemberian hak kepada para penyandang cacat, pemerintah harus benar-benar memperhatikan dan melaksanakan secara benar. Bukan hanya pada Hari Penyandang Cacat Internasional pemerintah memperhatikan mereka. Akan tetapi untuk selamanya perhatian terhadap haknya harus ditegakkan. Refleksi tersebut jangan sampai menjadi bahan politisi mendekati masyarakat untuk mendapat perhatian dalam nama baik jabatannya saja. Setelah itu lalu ditinggalkan dan dibiarkan tanpa mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Sifat seperti itulah yang harus dihindari oleh pemerintah dan pada umumnya kita semua.

* Penulis adalah mahasiswa Sastra Inggris fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya, sekaligus aktivis HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: