Sejarah dan Manfaat Burdah bagi Manusia

NU ONLINE: Senin 19 Nopember 2011

Junaidi Khab: Qasidah Burdah

Junaidi Khab: Qasidah Burdah

Judul          : Qashidah Burdah

Penulis       : KH. M. Syarwani Abdan

Penerbit     : Muara Progresif

Cetakan     : I, Januari 2011

Tebal         : xv+175 Halaman

Peresensi   : Junaidi*

Qashidah Burdah terdiri dari 160 bait, hampir menjadi Qashidah yang paling penting dalam pujian kepada Nabi. Oleh sebab itu, para ulama di selurah dunia Islam menyambutnya dengan penuh simpatik dan hormat. Sehinnga dalam suatu riwayat bahwasanya Ibnu Khaldun seorang yang berasal dari Hadramaut pernah menghadiahkan Qashidah Burdah tersebut kepada Timur Lank.

Pada tahun-tahun terakhir sebelun ayahanda Syarwani Abdan meninggal dunia, beliau telah sempat menulis terjemahan Qishidah Burdah karya imam Albushiry. Namun terjemahan  tersebut tidak sampai selesai, hanya sampai pada bait; “wakasshirooti wa kalmizaani ma’dilatan falqisthu min ghairihaa fil naasi lam yaqumi”. Hal itulah yang memotivasi Alfaqir untuk meneruskan terjemahan tersebut sampai bait terakhir untuk selanjutnya bisa kiranya diterbitkan dan dipublikasikan, mengingat pentingnya isi dan uraian yang telah beliau susun agar Qashidah Burdah yang tersohor di seantero dunia ini benar-benar dapat dipahami dan dihayati, bukan dilantunkan saja. Akhirnya pada tahun ini yakni tahun 2011, terjemahan Qashidah Burdah yang ditulis oleh Syarwani Abdan dapat dicetak meski dalam format yang sederhana . namun, isi dari buku ini ckup bagus untuk diamalkan oleh siapa saja dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam buku Syarwani Abdan ini ada beberapa ulasan tentang penulis qashidah burdah yakni iman Albushiry. Imam Albushiry adalah pribadi terkemua seorang seorang yang alim lagi mengamlkan ilmunya, seorang shaleh yang tenggelam dalam mencintai Allah dan Rasulullah-Nya. Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammand bin Sa’id bin Hammad bin Abdillah bin Alshonhaji Albushiry Almishry, asal keturunan dari Maghrib (Moroko) dari Qal’ah Hammad, dari suku yang dikenal dengan bani Habnun, beliau dilahirkan di daerah Dallas pada hari selasa tanggal 01 Syawwal 608 H. dan beliau wafat di Iskandariyah pada tahun 696 H. dan makamnya terkenal di Iskandariyah. Loksinya bersambung dengan maslid Jami’. Dinding makamnya diukir dengan beberapa bait syair Burdah dengan kaligrafi yang begitu indah. Masjid tersebut tidak begitu jauh dari masjid dan makam gurunya, imam Abul Abbas Almursy. Dan ayah beliau brasal dari Mesir daerah bushir, salah satu desa Mesir Atas (Mesir pedesaan).

Imam Albushiry mempunyai kumpulan syair yang dicetak, diantaranya yang sangat terkenal adalah Qashidah Burdah. Banyak penyair terkenal mengarang syair-syair menapaktilasi dan banyak ulama menulis penjelasan dan uraian Qashidah Burdah terebut. Burdah beliau terdiri dari beberapa unsure, di bagian dean syairnya berisi tentang teringat kepada kekasih, kerinduan, dan cinta, berikutnya berisi tentang peringatan dari godaan hawa nafsu, kemudian pijian-pujian kepada Nabi, tentang kelahiran dan beberapa mukjizatnya. Selanjutnya berisi tentang Alquran, isra’mi’raj, jihad dan tawassul.

Syarwani Abdan dalam buku terjemahan  Qashidah Burdah menuliskan beberapa keunggulan dari Qashidah Burdah tersebut, dari rangkaian syair dan isinya. Begitu juga tak kalah penting, di dalam buku ini juga dipaparkan beberapa khasiat dan faedah dari Qashidah Burdah, yaitu; ada lima bait Qashidah Burdah yang apabila ada eseorang curiga terhadap istri, anak perempuan atau salah seorang kelurganya, handaknya ia menuliskan lima bait Qashidah Burdah tersebut di atas daun limau dan diletakkan di tangan kiri orang yang dicurigai sewaktu tidur, lalu ia mendekatkan mulut di telinganya, niscaya yang dicurigai itu akan mengatakan apa saja yang telah dilakukannya baik atau buruk. Begitu juga untuk orang yang dicurigai sebagai pencuri.

Dari Qashidah Burdah itu, setiap baitnya memiliki beberapa khasiat dan faedah yang berbeda, dan begitu juga tata cara penggunaan atau pengamalannya. Selain keindahan syairnya, itu senua sangat bermanfat jika diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam setiap bait, Qashidah Burdah memiliki syair yang sangat indah. Nilai-nilai estetikanya menjadikan imam Albushiry, penyair yang tak tertandingi sepanjang sejarah. Burdah senantiasa dilantunkan di berbagai penjuru dunia, itu karena imam Abushiry menulisnya dengan sepenuh hati. Kecintaannya kepada Allah dan Rasulullah Saw. mampu mengesampingkan cintanya terhadap yang lain. Bahkan kekuatan cinta akan ikut mengalir pada siapapun yang meresapi kedalaman maknanya. Rindu selalu membuat orang berharap kehadiran sang kekasih. Dan Burdah pula yang akhirnya mampu menghadirkan sang kekasih Rasulullah Saw. dalam mimpunya. Sehingga penyakit lumpuh yang dideritanya menjadi sembuh. Alunan Burdah juga mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Sehingga Burdah sampai saat ini masih terus dilantunkan oleh kaum Muslimin di sebagian Negara Islam, bahkan Negara-negara di dunia sampai ke Amerika.

Buku ini selain mengupas batapa indahnya Qashidah Burdah juga dibahas mengenai manfaat dan faedahnya, Burdah tidak hanya untuk dilantunkan tapi juga banyak digunakan untuk mengobati segala macam penyakit dan mengatasi segala problem hidup.

* Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya, jurusan Sastra Inggris.

    E-Mail: john_gapura@yahoo.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: