Mewaspadai Manipulasi Data Beasiswa

RADAR SURABAYA ● SELASA, 12 JUNI 2012

Oleh: Junaidi*

Salah satu kinerja pemerintah Indonesia dalam rangka memajukan pendidikan anak bangsa ini adalah dengan memberikan kebijakan yang berupa beasiswa kepada mereka yang tidak mampu dan memiliki prestasi dalam pendidikan. Berbagai beasiswa diumumkan bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi namun dengan syarat memiliki prestasi yang tinggi. Misalkan melalui beasiswa Djarum, Super Semar, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), dan beasiswa Bidikmisi.

Adapun tujuan pemerintah memberikan beasiswa bagi mereka yang tidak mampu dalam bidang ekonomi yaitu agar mereka lebih semangat untuk belajar dan memajukan pendidikan di negeri ini. Dengan adanya apresiasi dari pemerintah dalam bentuk bantuan ekonomi ini mereka yang tidak mampu akan berantusias untuk belajar dan memiliki prestasi yang nyata. Mereka yang sudah hampir putus asa saat ada pada kelas akhir untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi (PT) karena alasan ekonomi tidak lagi menjadi alasan yang rasional.

Jika mereka memang memiliki tekad bulat untuk belajar dan melanjutkan pendidikan ke PT tidaklah harus memikirkan urusan ekonomi lebih jauh lagi. Akan tetapi mereka harus terus mengobarkan semangat belajar yang tinggi hingga memilki prestasi. Karena dengan prestasi yang mereka dapat, pemerintah tidak akan sungkan-sungkan untuk membiayai pendidikannya.

Sportifitas

Namun, jika mereka yang tidak mampu ingin melanjutkan pendidikannya dengan mendapat Beasiswa tetapi tidak memiliki prestasi, hal demikian yang menjadi kendala utama. Kadang kala Beasiswa Bidikmisi itu disalahgunakan oleh para peminatnya, dari ‘Beasiswa Bidikmisi’ menjadi ‘Beasiswa Bidikuang’. Berbagai cara dilakukan untuk mendapat Beasiswa Bidikmisi, belajar yang rajin dengan membentuk prestasi yang realistis bagi kemajuan pendidikan bangsa ini. Namun setelah beasiswa bidikmisi itu diperoleh bisa jadi misi itu berubah menjadi lebih mengacu pada kesejahterahan hidup mereka saja ini juga harus mendapat perhatian dari pemerintah agar misi dari beasiswa itu tetap menjadi tujuan utama.

Namun, sangat disayangkan sekali jika mereka yang menginginkan Beasiswa Bidikmisi hanya ingin mendapat uangnya saja. Mereka ini yang kurang memiliki etos belajar yang tinggi, akan tetapi hasrat untuk memperoleh beasiswa sangat tinggi. Sehingga yang mereka harapkan bukan misi lagi dari besiswa, tetapi uang yang mereka inginkan untuk hidup lebih sejahterah di lingkungan pendidikan. Kemungkinan besar akan terjadi manipulasi data jika keadaan para peminat beasiswa bidikmisi tidak benar-benar ingin mencapai misi yang ditagetkan oleh pemerintah. Manupulasi data dalam memperoleh beasiswa itu jangan sampai menjadi hal yang dianggap enteng, karena pada hakikatnya kita menjerumuskan diri ke jurang yang dalam.

Seperti yang diberitakan dalam suatu surat kabar bahwa di Universitas Brawijaya (UB) Malang, kuota mahasiswa yang melakukan registrasi 6.000 orang lebih dan yang masuk hanya 1.258 mahasiswa. Sedangkan pendaftar yang didiskualifikasi 30 % karena melakukan manipulasi data untuk mendapat beasiswa bidikmisi. Di Universitas Malang (UM) Malang, dari 5.700 pendaftar dan yang masuk seleksi 750 mahasiswa untuk mendapat beasiswa bidikmisi. Sedangkan 30 % juga didiskualifikasi karena kasus yang sama, yaitu manipulasi data untuk mendapat beasiswa bidikmisi.

Dalam kompetisi untuk mendapat beasiswa bidik misi para para calon mahasiswa harus sportif. Berbagai persyaratan yang harus dipenuhi harus benar-benar sesuai dengan keadaan dan prestasi yang dimilikinya. Karena beasiswa itu menyangkut kepentingan bagi kemajuan pendidikan bangsa Indonesia dalam kesejahteraan bersama di masa yang akan datang.

Objektifitas

Tidak akan jauh dari kasus tadi, selain mahasiswa melakukan manipulasi data untuk mendapat beasiswa dalam menempuh pendidikannya agar lebih sejahterah. Begitu pula pengurus administrasi beasiswa bisa melakukan pemilahan dan pemilihan sesuai hasrat dan keinginannya terhadap orang tertentu. Misalkan dari pendaftar ada relasi baik dengan pihak administrasi, padahal persyaratan untuk mendapat beasiswa bisa dikata minim bahkan tidak memenuhi persyaratan. Namun dengan adanya relasi yang cukup baik dengan pihak adminitrasi, sehingga mereka diloloskan pada saat seleksi.

Ketimpangan yang serupa itu tidak boleh menjadi suatu alasan dalam meloloskan seseorang untuk mendapatkan beasiswa. Kadang ada yang mengatakan harus memperbanyak relasi agar urusan kita berjalan dengan lancar. Padahal jika kita melihat dari sisi negatifnya sebuah relasi yang hanya ingin mendapatkan predikat yang sebenarnya tidak pantas disandang kita itu lebih buruk dari pada mereka yang melakukan korupsi. Karena kasus yang seperti itu hakikatnya mengajari kecurangan bagi mereka yang tidak memilki etos belajar yang tinggi dan tidak berprestasi.

Apapun yang menjadi alasan, beasiswa itu harus benar-benar disalurkan bagi mereka yang berhak mendapatkan. Tentunya bagi mereka yang memang benar-benar memenuhi persyaratan yang telah ditentukan sebelumya. Objektifitas dalam merekrut peserta harus lebih diutamakan, agar kelak tidak terjadi komplikasi yang semakin mempersulit pemberian beasiswa bagi mereka yang kurang mampu tetapi berprestasi. Mungkin salah satu motif dari manipulasi data oleh pendaftar beasiswa itu selain dipengaruhi oleh keinginan hdiup sejahtrah dalam pendidikan juga karena ketahuannya mahasiswa yang tidak berhak mendpatkan beasiswa namun secara tidak disangka-sangka mereka bisa memperoleh dengan berbagai alasan.

Pada intinya, sportifitas peserta dalam mendaftar beasiswa harus benar-benar ditampakkan. Dengan tidak memanipulasi berbagai data untuk mendapat beasiswa. Begitu pula dari pihak adminitrasi yang mengurus bidang kebeasiswaan agar lebih objektif dan tidak menyalahgunakan hak dan wewenang bagi mereka yang memang benar-benar berhak mendapat beasiswa. Misalkan orang yang pernah berjasa kepada kita, untuk membalas jasanya lalu meloloskan dalam penerimaan beasiswa. Bahkan keluarga dekatpun jangan sampai direkrut untuk menajadi mahasiswa penerima beasiswa jika mereka tidak layak mendapatkannya agar kelak tidak terjadi kontroversi.

* Penulis adalah jurnalis pada Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Solidaritas IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: