Suami Kawin tanpa Izin Istri

RADAR SURABAYA ● MINGGU, 12 MEI 2013

Terus terang saja, saya tidak mengerti hukum, maka izinkan saya bertanya masalah yang terkait dengan rumah tangga saya. Untuk itu saya berharap mendapatkan penjelasan tentang masalah yang tengah saya hadapi ini.

Yang ingin saya tanyakan, _setahun yang lalu suami saya menikah lagi di KUA tanpa seizin saya. Dengan isterinya yang baru tersebut, mereka sudah mempunyai satu anak. Sedangkan usia perkawinan saya dengannya sudah masuk 15 tahun, dan dikarunia 3 orang anak. Pertanyaan saya: Apakah perkawinan suami saya yang kedua itu sah, terlebih sudah dikaruniai anak? Dan apakah saya bisa menggugat pembatalan perkawinan mereka di pengadilan,_mengingat saya tidak pernah memberikan izin kepada mereka?

Demikian atas terjawabnya pertanyaan saya ini saya ucapkan terima kasih.

Hormat saya

Ibu Wahyu,

Di Malang

JAWABAN :

Suami KawinUntuk menjawab pertanyaan Ibu Wahyu, mari kita simak terlebih dahulu UU No 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan. Pasal 3 ayat (2) aturan pemberian izin dari pengadilan, Pasal 4 ayat (1) aturan permohonan ke pengadilan, dan Pasal 5 ayat (1) mengatur tentang syarat-syarat berpoligami. Misalnya, a) adanya persetujuan dari istri, b) adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup istri-istri dan anak-anak mereka, c) adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istriistri dan anak-anak mereka.

Mengingat suami ibu menikah di KUA tanpa seizin ibu, kami berpendapat tindakan tersebut merupakan pelanggaran hukum. Boleh jadi ketika mendaftar di KUA, suami ibu memberi keterangan palsu tentang statusnya, dan perbuatan tersebut adalah pelanggaran pidana. Tentu saja perkawinan yang dilakukannya tidak sah. Ibu juga dapat melakukan upaya hukum berupa gugatan pembatalan perkawinannya dengan istri kedua ke Pengadilan Agama, untuk yang menikah di Kantor Urusan Agama (KUA), atau Pengadilan Negeri bagi perkawinan yang didaftarkan di cacatan sipil. Gugatannya diajukan ke daerah hukum di mana perkawinan kedua dilangsungkan, atau di tempat tinggal mereka. Dengan alasan, perkawinan kedua yang dilakukan suami tersebut tanpa seizin ibu sebagai isteri pertama.

Batalnya suatu perkawinan setelah adanya putusan pengadilan, tidak berlaku surut terhadap anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut. Artinya, anak tersebut adalah tetap anak sah dari suami dan isteri kedua. Tapi, setelah ada putusan pembatalan, ternyata mereka tetap hidup bersama, lalu memiliki anak-anak, maka keturunannya itu adalah hasil di luar kawin yang diatur oleh undangundang. Itulah ketentuan hukum yang berlaku di negeri ini.

Demikian jawaban yang dapat kami berikan, semoga dapat memberikan jalan ke luar yang baik.

Silakan klik RADAR SURABAYA ● MINGGU, 12 MEI 2013 untuk men-download file koran PDF aslinya.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,956 other followers

%d bloggers like this: